Headline

Pengakuan Penyedia Makanan dan Pengawas soal Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat

penjara milik bupati langkat


FAKTATREN.COM - Penyedia makanan untuk penghuni kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Peranginangin, memberi penjelasan soal pemberian makanan.

Perempuan bernama Rudiyanti itu membantah makanan yang diberikan kepada para terduga pencandu narkoba hanya dua kali sehari.

Bahkan, kata dia, orang yang mendekam di kerangkeng tersebut juga meminta makan lebih kepadanya.

"Kami sekeluarga kecewa, karena dibilang makannya cuman dua kali."

"Padahal, kami menyediakan tiga kali makan," ujarnya, Senin (31/1/2022), dikutip dari Tribun-Medan.com.

Ia yang sudah enam bulan bekerja di sana itu mengatakan, seluruh makanan yang diberikan bergizi.

"Kami tidak terima, makanan mereka juga yang bergizi," jelas dia.

Kata Pengawas Kerangkeng Manusia


Sementara itu, pengawas tahanan, Suparman Perangin-angin, membantah terdapat perbudakan modern terhadap orang-orang yang ditahan di kerangkeng milik Bupati Langkat.

Ia mengatakan, orang-orang yang ditahan di dalam kerangkeng tersebut akan dipekerjakan di kebun sawit sesuai keahlian.

"Kalau diberitakan seperti di TV, ada perbudakan modern tidak benar."

"Jadi di sini mereka dibina berdasarkan keahlian mereka."

"Misal dia punya bengkel las, kalau memungkinkan, dia akan dikaryawankan (di perusahaan sawit milik Bupati nonaktif Langkat)," katanya, dikutip Kompas.com dari program AIMAN di YouTube Kompas TV, Selasa (1/2/2022).

LPSK Sebut Penghuni Tak Merasa Jadi Korban


Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, mengungkapkan terdapat penghuni kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat telah berada di tahanan selama empat tahun.

Namun, ia mengatakan, orang tersebut justru tak merasa sebagai korban.

"Jadi ada yang selama empat tahun di dalam tahanan, tetapi enggak merasa jadi korban."

"Orang, di dalam waktu lama berada di pembatasan mereka, tidak merasa menjadi korban seolah-olah diperlakukan secara baik-baik," ujar Edwin dalam konferensi pers secara daring, Senin, dilansir Kompas.com.

Tak Ada Kegiatan Rehabilitasi


Edwin mengatakan, tidak ada aktivitas rehabilitasi di kerangkeng di rumah Bupati Langkat.

Temuan tersebut berdasarkan pada hasil investigasi yang dilakukan oleh tim LPSK pada pekan lalu.

"Tidak ada aktivitas rehabilitasi. Ketika kami tanya, aktivitas harian rehabilitasi apa? Enggak ada, ya natural saja, alami saja, enggak ada schedule, enggak ada modul. Suka-suka yang jadi pembina atau pengelola saja," ungkapnya, Senin, dikutip dari Kompas.com.

Ia menceritakan, di dalam satu bangunan terdapat tiga ruang dengan dua sel.

Satu ruangan lain adalah dapur yang menurutnya memiliki kondisi paling normal.

"Tidak layak lagi di dalam ruangan kurang lebih ukuran 6x6 itu kalau terakhir ditemukan lebih dari 20 orang di dalam satu ruangan."

"Itu ruangan jorok, kotor, dinding kusam, ini menggambarkan tempat ini sangat tidak layak," bebernya.

Sebagai informasi, Bupati Langkat, Terbit Rencana Paranginangin, saat ini berstatus tersangka.

Terbit ditahan KPK terkait kasus dugaan suap proyek pengadaan barang dan jasa.

Dalam perkembangan pengusutan kasus ini, petugas menemukan kerangkeng manusia.

Dari hasil penyelidikan sementara polisi, para remaja nakal dan pencandu narkoba yang mengikuti program di rumah Terbit Peranginangin dipekerjakan dengan dalih sebagai salah satu bentuk pembinaan.

Polisi pun membenarkan laporan Migrant Care yang menyatakan penghuni kerangkeng di rumah Bupati Langkat dipekerjakan tanpa mendapat gaji di pabrik kelapa sawit milik Terbit.

Lalu, berdasarkan penyelidikan sementara Komnas HAM, mereka menemukan lebih dari satu orang meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan.


IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Type and hit Enter to search

Close